SAINTIS USA MENGKAJI KEJADIAN MEMBELAH LAUT



BOULDER, Amerika Syarikat (AS) – Saintis-saintis di AS membuktikan kebenaran kisah Nabi Musa membelah laut seperti yang diceritakan dalam kitab suci al-Quran dan Injil, lapor sebuah akhbar semalam.

Satu kajian oleh sepasukan penyelidik yang diketuai saintis Carl Drews dari Pusat Penyelidikan Atmosfera Nasional di sini, mendapati fenomena itu tidak bercanggah dengan hukum fizik.

Kitab al-Quran menceritakan bahawa Nabi Musa membelah laut dengan menghentakkan tongkatnya ke tanah semasa baginda dan kaum Bani Israel terperangkap di antara pasukan tentera Firaun yang sedang mara dan laut di hadapan mereka.

Kumpulan saintis itu yang mengkaji beberapa peta kuno Delta Sungai Nil mendapati laut terbelah itu merujuk kepada sebuah lagun yang kini dikenali sebagai Tasik Tanis di selatan Laut Mediterranean dekat Laut Merah dan satu cawangan Sungai Nil.

Kini, dengan menggunakan simulasi komputer, saintis-saintis itu menunjukkan bahawa laut berkenaan terbelah dua melalui proses tiupan angin kencang yang dikenali sebagai angin timur bertiup selaju 100.8 kilometer sejam (km/j) selama 12 jam menyebabkan aliran air sungai dan lagun itu berpusing balik lalu membentuk seperti dinding air.

Satu model lautan komputer kemudian digunakan sebagai simulasi bagi melihat kesan angin yang bertiup semalamam ke atas air sedalam beberapa meter itu.

Selama empat jam, tiupan angin tersebut menghasilkan jambatan darat sepanjang 3.2 kilometer (km) dan selebar 4.8km.

Sejurus selepas angin timur reda, air lagun dan sungai itu kembali mengalir ke tempat asal seperti ombak tsunami.

Hasil kajian saintis berkenaan disiarkan di Internet oleh Jurnal Public Library of Science ONE. – Agensi

Gambar : LAKARAN artis menunjukkan angin kuat dari timur telah menyebabkan air lagun (kiri) dan sungai (kanan) ‘berpusing’ dan membentuk dinding air dekat Laut Merah.

Sumber : http://zharifalimin.blogspot.com/2010/11/saintis-usa-buktikan-nabi-musa-membelah.html
READ MORE - SAINTIS USA MENGKAJI KEJADIAN MEMBELAH LAUT

Kisah Anwar dan Burung Kecil



Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. al-Mulk, 67:19)

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (QS. an-Nahl, 16:79)

Ketika Anwar sedang berjalan pulang dari sekolah, hujan mulai turun sangat lebat. Setelah makan malam, sebelum memulai pekerjaan rumahnya, dia bertanya kepada ibunya apakah dia boleh melihat hujan dulu sebentar. Ibu bilang bahwa Anwar boleh melihatnya sebentar saja. Anwar melihat ke jendela dan mulai memperhatikan hujan yang turun di luar. Ada orang berjalan di jalanan dengan memakai payung, dan yang tidak mempunyai payung merapatkan diri mereka ke bangunan. Tak lama kemudian, gumpalan hujan mulai terbentuk di mana-mana. Mobil yang lewat memuncratkan air ke sisi jalan dan orang berlarian dari pemberhentian agar tidak kebasahan. Anwar berpikir betapa menyenangkannya berada di dalam rumah dan dia harus lebih bersyukur kepada Allah Yang telah memberinya makanan dan rumah yang hangat untuk tinggal. Pada saat itu juga, seekor burung jelatik hinggap di bingkai jendela. Anwar berpikir bahwa burung malang itu pasti sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan dia segera membuka jendela.
“Hai, namaku Anwar,” katanya. “Kamu boleh masuk kalau kamu mau.”
“Terima kasih, Anwar,” kata sang burung kecil. “Aku ingin menunggu di dalam sampai hujan reda.”
“Kamu pasti kedinginan di luar sana,” Anwar ikut merasakan “Aku belum pernah melihat burung sedekat ini sebelumnya. Lihat betapa tipisnya kakimu! Bagaimana kakimu dapat menahan badanmu hingga tegak?”
“Kamu benar, Anwar,” sang jelatik setuju. “Kami burung memiliki kaki yang tipis dibanding tubuh kami. Namun, biarpun demikian, kaki-kaki tersebut mampu menahan tubuh kami dengan sangat mudah. Ada banyak otot, pembuluh darah dan syaraf didalamnya. Bila kaki kami lebih tipis atau lebih tebal lagi, akan sulit bagi kami untuk terbang.”
“Terbang pasti rasanya sangat menakjubkan,” pikir Anwar. “sayapmu terlalu tipis, juga, namun kalian masih dapat terbang dengannya. Jadi, bagaimana kamu dapat terbang sedemikian jauhnya tanpa merasa lelah?”
“Saat pertama kali kami terbang, kami menggunakan banyak sekali tenaga karena kami harus mendukung berat badan kami pada sayap kami yang tipis,” mulai sang jelatik. “Namun begitu kami di udara, kami menjadi santai dengan mebiarkan tubuh kami terbawa angin. Jadi, karena kami menghabiskan lebih sedikit tenaga dengan cara ini, kami tidak menjadi lelah. Saat angin berhenti bertiup, kami mulai mengepakkan sayap kami lagi. Karena kelebihan yang telah Allah ciptakan untuk kami, kami dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh.”

Anwar kemudian bertanya, “Bagaimana kamu dapat melihat sekelilingmu saat sedang terbang?”
Sang jelatik menjelaskan: “Organ indera terbaik kami adalah mata kami. Selain memberikan kemampuan untuk terbang, Allah juga memberikan kami indera penglihatan yang sangat hebat. Jika kami tidak memiliki indera penglihatan bersamaan dengan kemampuan ajaib kami untuk bisa terbang, hal itu sangatlah berbahaya bagi kami. Kami dapat melihat benda yang sangat jauh dengan lebih jelas daripada manusia, dan kami memiliki jangkauan penglihatan yang luas. jadi begitu kami melihat bahaya di depan, kami dapat menyesuaikan arah dan kecepatan terbang kami. Kami tidak dapat memutar mata kami seperti manusia karena mata kami diletakkan pada pencengkramnya. namun kami dapat menggerakkan kepala kami berputar dengan cepat untuk memperluas wilayah penglihatan kami.”
Anwar mengerti: “Jadi, itulah mengapa burung selalu menggerakkan kepala mereka: untuk melihat ke sekeliling mereka. Apakah semua mata burung seperti itu?”
“Burung hantu dan burung-burung malam hari lainnya memiliki mata yang sangat lebar,” sang jelatik melanjutkan. “Berkat sel khusus dalam mata mereka, mereka dapat melihat dalam keremangan. Karenanya, burung hantu dapat melihat dengan sangat baik untuk berburu di malam hari. Ada juga jenis burung yang disebut burung air; Allah menciptakan mereka agar mereka dapt melihat dengan sangat baik di dalam air. Mereka mencelupkan kepala mereka ke dalam air dan menangkap serangga atau ikan. Allah menciptakan kemampuan ini dalam burung-burung ini agar mereka dapat melihat dengan jelas di dalam air dan menangkap mangsa mereka.”
“Tidak semua paruh burung sama, nampaknya. Mengapa demikian?” Anwar bertanya.
“Allah menciptakan berbagai jenis paruh yang berbeda untuk burung yang berbeda untuk melakukan pekerjaan yang berbeda,” demikian jawabannya. “Paruh kamu sesuai dengan sempurna terhadap lingkungan di mana kami tinggal. Ulat dan cacing sangat lezat bagi kami para burung pemangsa serangga. dengan paruh kami yang tipis dan tajam, kami dapat dengan mudah mengambil ulat dan cacing dari bawah daun pohon. Burung pemakan ikan biasanya memiliki paruh yang panjang dengan bentuk seperti sendok pada ujungnya untuk menangkap ikan dengan mudah. Dan burung yang makan dari tumbuhan memiliki paruh yang membuat mereka dapat makan dengan mudah dari jenis tumbuhan yang mereka sukai. Allah telah menyediakan dengan sempurna untuk setiap makhluk di Bumi dengan memberikannya kemampuan yang dia butuhkan.”
Anwar punya pertanyaan lain untuk sang jelatik: “Kamu tidak mempunyai telinga seperti yang aku punya, namun kamu masih dapat mendengarkan aku dengan sangat baik. Bagaimana bisa?”
“Indera pendengaran sangatlah penting bagi kami para burung. Kami menggunakannya untuk berburu dan saling memperingatkan akan adanya kemungkinan bahaya sehingga kami dapat melindungi diri kami. Sebagian burung memiliki gendang pendengaran yang membuat mereka mampu mendengar suara yang paling kecil. Pendengaran burung hantu sangat peka akan suara. Burung Hantu dapat mendengar tingkat suara yang tidak dapat didengar manusia,” sang jelatik memberitahukannya.
Anwar kemudian bertanya: “Kalian para burung berkicau dengan sangat merdu. Aku senang mendengarkan kalian. Untuk apa kalian menggunakan suara kalian?”

Sang burung mengangguk: “Sebagian dari kami memiliki kicauan yang berbeda untuk mengusir musuh kami. Terkadang kami membuat sarang kami di dalam lubang pada batang pohon, dan ketika musuh mencoba masuk, kami mendesis layaknya ular. Penyusup tersebut berpikir bahwa ada ular di dalam sarang itu, sehingga kami dapat melindungi sarang kami.”
“Apa lagi yang kalian lakukan untuk melindungi sarang kalian dari musuh?” Anwar ingin tahu.
“Kami membangun banyak sarang tipuan untuk menyesatkan musuh kami,” kata sang burung. “Dengan cara ini kami membuat para penyusup tersesat dan melindungi sarang dan telur kami yang telah kami sembunyikan di daerah tersebut. Untuk melindungi sarang kami dari ular berbisa, kami menutupi jalan masuk dan membuatnya sangat berliku-liku. Kewaspadaan lainnya adalah membangun sarang pada pohon yang cabangnya berduri.”
“Bagaimanakah sebagian burung dapat berenang dalam air? dan mengapa tidak semua burung dapat berenang?” Anwar bertanya pada temannya.
Sang jelatik menjawab: “Allah telah menciptakan sebagian dari kami dengan kemampuan untuk berenang. Dia telah memberikan mereka kaki berselaput jala agar mereka mampu berenang saat masuk ke dalam air. Sebagian lain dari kami memiliki jari tipis tanpa jala. jadi, selain burung air, burung tak dapat berenang.”
“Sama seperti sepatu renang!” Anwar berseru. “Saat aku berenang dengan memakai sepatu renang, aku dapat berenang dengan jauh lebih cepat.”
“Ada beberapa burung yang telah memiliki sepatu renang ini sejak lahir,” kata sang burung.
Saat Anwar dan sang burung sedang berbincang-bincang, ibunya menyuruh Anwar untuk masuk ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pada saat bersamaan, hujan pun telah reda.
Anwar berkata pada temannya: “Sekarang aku harus masuk ke kamarku dan mengerjakan pekerjaan rumahku. Besok aku akan bercerita kepada teman-temanku tentang kemampuan istimewamu, dan bagaimana Allah telah menciptakan kamu dan makhluk lainnya melalui karya seni kreatif yang sedemikian sempurna.”
“Hujan telah reda, jadi aku dapat kembali ke sarangku,” jawab sang jelatik. “Terima kasih telah membawa aku masuk, Anwar. Saat kau menceritakan temanmu tentang kami, Bisakah kamu sampaikan juga kepada mereka untuk peduli kepada kami dan jangan melemparkan batu kepada kami atau kepada makhluk lainnya?”
“Ya, tentu saja aku akan menyampaikannya kepada mereka,” Anwar setuju. “Semoga Allah melindungimu.”
Anwar membuka jendela dan sang burung segera terbang, melayang menembus udara. Anwar memikirkan kesempurnaan dalam ciptaan Allah dan duduk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Sumber : Harun Yahya
READ MORE - Kisah Anwar dan Burung Kecil

Gunung, Ciptaan Maha Besar Allah SWT

“And We placed within the earth firmly set mountains, lest it should shift with them, and We made therein [mountain] passes [as] roads that they might be guided.” (QS Al-Anbiya’ : 31)
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS Al-Anbiya’ : 31)
Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung. Dan sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Dalam sains modern, gunung merupakan bagian dari kerak bumi yang sangat tebal yang dihasilkan dari berbagai macam proses. Dalam kajian ilmiah ada dua hipotesis utama yang menjelaskan tentang formasi dan pembentukan gunung. Pertama, tektonik secara vertikal, hipotesis ini menyatakan gerakan vertikal lebih banyak terjadi pada kerak bumi. Kedua, tektonik secara horisontal, hipotesis ini menjelaskan bahwa sebagian besar gerakan tanah yang menyebabkan pembentukan gunung bersifat horisontal dan secara langsung berhubungan dengan lempengan tektonik dan apungan benua (drifting continent).
Kemudian gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Kemudian gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Gunung sebagai Pasak Bumi
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS An-Naba’ : 6-7)
Sebuah buku berjudul Earth adalah buku pegangan rujukan di banyak universitas di seluruh dunia. Salah seorang pengarangnya adalah Profesor Emeritus Frank Press. Ia adalah Penasehat Ilmu Pengetahuan dari mantan Presiden Amerika Jimmy Carter dan selama 12 tahun menjadi presiden dari National Academy of Sciences, Washington, DC. Buku tersebut menyatakan bahwa gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka. Akar ini menghunjam dalam, sehingga seolah gunung-gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak.
Ilmu bumi moderen telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar di dalam tanah dan akar ini dapat mencapai kedalaman yang berlipat dari ketinggian mereka di atas permukaan tanah. Jadi, kata yang paling tepat untuk menggambarkan gunung-gunung berdasarkan informasi ini adalah kata “pasak” karena bagian terbesar dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah. Pengetahuan semacam ini, tentang gunung-gunung yang memiliki akar yang dalam, baru diperkenalkan di paruh kedua dari abad ke-19.
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster’s New Twentieth Century Dictionary, 2. edition “Isostasy”, New York, s. 975)

Plate Tectonics
Dalam kajian ilmiah gunung hanyalah sebuah landform yang sangat tinggi yang terbentuk dari lempengan-lempengan tektonik, namun quran dalam menjelaskan tentang gunung memiliki pandangan yang berbeda, quran mengungkapkan bahwa gunung sebagai stabilisator bumi yang menjaga agar bumi tidak bergerak dan bergeser, sehingga quran menyatakan bahwa gunung sebagai pasak bumi yang menjulang dari atas hingga kebawah (kerak bumi).
Pergerakan Gunung – Continental Drift
QS. An-Naml, ayat 88 :
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat tersebut, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut: Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Earth Structure
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Mount Everest
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS Al-Anbiya’ : 31)
Maha Benar Engkau Ya Allah…

Sumber : http://onerauf.wordpress.com/2010/10/08/fungsi-pergerakan-gunung-dalam-al-quran/
READ MORE - Gunung, Ciptaan Maha Besar Allah SWT

Fungsi Gunung Sebagai Pasak



Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.

Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
READ MORE - Fungsi Gunung Sebagai Pasak

Tumbuhan tumbuhan di dalam Al-Qur'an

Berikut nama nama tumbuhan yang terdapat di dalam Al-Qur'an :

1. Nama umum: Anggur
Nama dalam Al-Qur'an: "A'nab" atau أَعْنَابٍ
Nama saintifik: Vitis vinifera
Famili: Vitaceae
Taburan asal: Wilayah Mediterranean, Eropah tengah dan Asia Barat Daya
Surah dan ayat: (17: 91), (80: 28), (2: 266), (16: 11 & 67), (18: 32), (23: 19), (36: 34), (78: 32), (6: 99), (13: 4)


2. Nama umum: Bawang
Nama dalam Al-Qur'an: 'Basal' atau بَصَلِ
Nama saintifik: Allium cepa
Famili: Alliaceae
Taburan asal: Tidak diketahui
Surah dan ayat: (2: 61)



3. Nama umum: Bawang putih
Nama dalam Al-Qur'an: 'Fum' atau فُومِ
Nama saintifik: Allium sativum
Famili: Alliaceae
Taburan asal: Tidak diketahui
Surah dan ayat: (2: 61)



4. Nama umum: Biji sawi atau 'black mustard'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Khardal' atau خَرْدَلٍ
Nama saintifik: Brassica nigra
Famili: Brassicaceae
Taburan asal: Selatan wilayah Mediterranean di Eropah
Surah dan ayat: (21: 47), (31: 16)



5. Nama umum: Buah tin atau 'fig'
Nama dalam Al-Qur'an: 'At-Tiin' atau التِّينِ
Nama saintifik: Ficus carica
Famili: Moraceae
Taburan asal: Asia Barat Daya dan selatan wilayah Mediterranean
Surah dan ayat: (95: 1)


6. Nama umum: Delima atau 'pomegranate'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Ar-Rumman' atau الرُّمَّانَ
Nama saintifik: Punica granatum
Famili: Lythraceae
Taburan asal: Timur Tengah
Surah dan ayat: (6: 99 & 141), (55: 68)


7. Nama umum: Halia
Nama dalam Al-Qur'an: 'Zanjabil' atau زَنجَبِيلً
Nama saintifik: Zingiber officinale
Famili: Zingiberaceae
Taburan asal: Asia
Surah dan ayat: (76: 17)


8. Nama umum: Kacang dal atau 'lentil'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Adas' atau عَدَسِ
Nama saintifik: Lens culinaris
Famili: Fabaceae
Taburan asal: Timur Dekat
Surah dan ayat: (2: 61)


9. Nama umum: Kapur, 'camphor tree' atau 'Malay camphor'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Kafur' atau كَافُورً
Nama saintifik: Dryobalanops aromatica
Famili: Dipterocarpaceae
Taburan asal: Semenanjung Malaysia, Borneo, Sumatra
Surah dan ayat: (76: 5)

Nota: Dua spesies tumbuhan yang berlainan famili telah menjadi sumber kapur atau 'camphor' pada masa silam. Salah satu daripadanya adalah pokok dariMalaysia iaitu Dryobalanops aromatica daripada famili Dipterocarpaceae dan yang satu lagi ialah pokok dari China dan Jepun iaitu Cinnamomum camphora daripada famili Lauraceae. 'Camphor' diperolehi daripada pokok Dryobalanops aromaticamelalui kulit kayu, manakala 'camphor' bagi pokok Cinnamomum camphordiperolehi melalui kayu (setelah damar pada kayu dibekukan) (Safaraz et al. 2009d).


10. Nama umum: 'Camphor tree' atau 'camphor laurel'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Kafur' atau كَافُورً
Nama saintifik: Cinnamomum camphora
Famili: Lauraceae
Taburan asal: Taiwan, selatan Jepun, tenggara China, Indochina
Surah dan ayat: (76: 5)


11. Nama umum: Labu air, 'bottle gourd' atau 'calabash'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Yaqtin' atau يَقْطِينٍ
Nama saintifik: Lagenaria siceraria
Famili: Cucurbitaceae
Taburan asal: 'Old World' tropika
Surah dan ayat: (37: 146)


12. Nama umum: Miswak, siwak, kayu sugi atau 'toothbrush tree'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Khamt' atau خَمْطٍ
Nama saintifik: Salvadora persica
Famili: Salvadoraceae
Taburan asal: Semenanjung Arab, Mesir, India
Surah dan ayat: (34: 16)


13. Nama umum: Pokok Bidara atau 'Indian plum'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Sidr' atau سِدْرٍ
Nama saintifik: Ziziphus mauritiana
Famili: Rhamnaceae
Taburan asal: India
Surah dan ayat: (34: 16), (56: 28)

Nota: Terdapat percanggahan pendapat terhadap pokok 'Sidr' yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. Ada pengkaji Al-Qur'an dan Hadith berpendapat pokok tersebut ialah Ziziphus mauritiana. Terdapat juga pengkaji Al-Qur'an dan Hadith yang berpendapat perkataan 'Sidr' tidak bermaksud pokok daripada genus Ziziphus(famili Rhamnaceae) tetapi di maksudkan dengan pokok daripada genus Cedrus(famili Pinaceae). Oleh kerana wujud percanggahan tersebut, kajian mendalam perlu dilakukan terhadap hal ini (Safaraz et al. 2009b).


14. Nama umum: Pisang
Nama dalam Al-Qur'an: 'Talh' atau طَلْحٍ
Nama saintifik: Musa paradisiaca
Famili: Musaceae
Taburan asal: Asia Tenggara dan Oceania
Surah dan ayat: (56: 29)

Nota: Banyak sumber mengenalpasti perkataan 'Talh' di dalam Surah Al-Waqi'ah ayat 29 memberi maksud sama ada sebagai pisang atau pokok daripada genusAcacia (Acacia seyal). 'Talh' telah dikenalpasti sebagai pisang di dalam beberapa tafsiran klasik dan moden bagi Al-Qur'an dan juga di dalam beberapa kamus Arab klasik. Walaupun pisang bukan tumbuhan yang berasal dari semenanjung Arab, kemungkinan besar orang Arab telah biasa dengan pisang ketika ditanam buat pertama kali di wilayah Mediterranean lebih kurang pada 650 M, iaitu pada saat kebangkitan Islam. Daripada segi etimologi, perkataan 'banana' (pisang) berasal daripada perkataan Arab bagi jari iaitu 'Banan'. Pisang mempunyai rasa manis berbanding Acacia, juga menepati konteks Syurga dengan baik. Perkataan 'Talh' juga merupakan nama umum Arab Yaman bagi pokok Acacia seyal yang tumbuh di Sudan, Libya, Jordan dan semenanjung Arab. Pokok ini juga dikaitkan dengan pokok semasa peristiwa Baiatul Ridhwan (Surah Al-Fath: 18) (Al-Zein & Musselman 2004).


15. Nama umum: Selasih atau 'sweet basil'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Ar-Raihan' atau الرَّيْحَانُ
Nama saintifik: Ocimum basilicum
Famili: Lamiaceae
Taburan asal: Iran, India dan Asia tropika
Surah dan ayat: (55: 12)


16. Nama umum: Tamar, kurma atau 'date palm'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Al-Nakhl' atau نَخْلٍ
Nama saintifik: Phoenix dactylifera
Famili: Arecaceae
Taburan asal: Utara Afrika dan Asia Barat
Surah dan ayat: (2: 266), (16: 11 & 67), (17: 91), (23: 19), (36: 34), (6: 99 & 141), (13: 4), (19: 23 & 25), (55: 11 & 68), (80: 29), (18: 32), (20: 71), (26: 148), (50: 10), (54: 20), (69: 7)


17. Nama umum: Timun, mentimun atau 'cucumber'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Qiththa' atau قِثَّا
Nama saintifik: Cucumis sativus
Famili: Cucurbitaceae
Taburan asal: India
Surah dan ayat: (2: 61)


18. Nama umum: Zaitun atau 'olive'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Az-Zaitun' atau الزَّيْتُونِ
Nama saintifik: Olea europaea
Famili: Oleaceae
Taburan asal: Timur lembangan Mediterranean
Surah dan ayat: (6: 99 & 141), (16: 11), (24: 35), (95: 1)


19. Nama umum: 'Tamarisk'
Nama dalam Al-Qur'an: 'Athl' atau أَثْلٍ
Nama saintifik: Tamarix aphylla
Famili: Tamaricaceae
Taburan asal: Afrika, Timur Tengah, Asia Barat, Asia Selatan
Surah dan ayat: (34: 16)


Rujukan:

Al-Zein, M. & Musselman, L.J. 2004. The Quranic Talh: Banana or Acacia?http://2004.botanyconference.org/engine/search/index.php?func=detail&aid=276

Harun, Y. 2001. Beauties for life in the Qur'an. http://www.harunyahya.co.uk/beauties05.php

Latiff, A. 2009. Quranic Botanical Gardens. http://pakteh48.blogspot.com/2009/12/quranic-botanical-gardens.html

Mushtaq, A., Mir, A.K., Safaraz, K.M., Muhammad, Z., Muhammad, A.K., Tamoor, U.H. & Shazia, S. 2009. Useful medicinal flora enlisted in Holy Qur'an and Ahadith.American-Eurasian J. Agric. & Environ. Sci. 5 (1): 126-140.

ParsQuran 2006. Fruits and vegetables in Quran. http://www.parsquran.com/eng/subject/fruit.htm

Quran Explorer. http://www.quranexplorer.com/quran/

Safaraz, K.M., Mir, A.K., Muhammad, A.K., Fazal-ur-Rehman, Mushtaq, A., Muhammad, Z. & Shazia, S. 2009a. Salvadora persica, Tamarix aphylla andZizyphus mauritiana - Three woody plant species mentioned in Holy Quran and Ahadith and their ethnobotanical uses in North Western Part (D.I. Khan) of Pakistan. Pakistan Journal of Nutrition 8 (5): 542-547.

Safaraz, K.M., Mir, A.K., Muhammad, A.K., Mushtaq, A., Muhammad, Z., Fazal-ur-Rehman & Shazia, S. 2009b. Fruit plant species mentioned in the Holy Qur'an and Ahadith and their ethnomedicinal importance. American-Eurasian J. Agric. & Environ. Sci. 5 (2): 284-295.

Safaraz, K.M., Mir, A.K., Muhammad, A.K., Mushtaq, A., Muhammad, Z., Fazal-ur-Rehman & Shazia, S. 2009c. Vegetables mentioned in the Holy Qur'an and Ahadith and their ethnomedicinal studies in Dera Ismail Khan, N.W.F.P, Pakistan. Pakistan Journal of Nutrition 8 (5): 530-538.

Safaraz, K.M., Muhammad, A.K., Fazal-ur-Rehman & Inayat Ullah, B. 2009d.Aromatic plant species mentioned in the Holy Qur'an and Ahadith and their ethnomedicinal importance. Pakistan Journal of Nutrition 8 (9): 1472-1479.

Taqwa Palace 2002. Plants of the noble Qur'an. http://www.ummah.com/islam/taqwapalace/fitness/health2.html

Terjemahan Al-Qur'an. http://www.alquran-melayu.com/
READ MORE - Tumbuhan tumbuhan di dalam Al-Qur'an

Proses Pembentukan Hujan di dalam Al-Qur'an

 "Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan..
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan,
"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)

Gambar di atas memperlihatkan butiran-butiran air yang lepas ke udara. Ini adalah tahap pertama dalam proses pembentukan hujan. Setelah itu, butiran-butiran air dalam awan yang baru saja terbentuk akan melayang di udara untuk kemudian menebal, menjadi jenuh, dan turun sebagai hujan. Seluruh tahapan ini disebutkan dalam Al Qur'an.
Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.
TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".
TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:
"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43)
Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:
TAHAP - 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP - 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
TAHAP - 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)
Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.

Sumber : Harun Yahya
READ MORE - Proses Pembentukan Hujan di dalam Al-Qur'an